Cerita Sex Ine Pembantu seksi

89 views
Iklan Film Semi Jav

Usia saya 36 tahun, sudah beristri dan mempunyai 3 orang anak. Rumah saya terletak di pinggiran kota Jakarta yang bisa disebut sebagai kampung. Orang tua saya tinggal di sebuah perumahan yang cukup elite tidak jauh dari rumah saya. Orang tua saya memang bisa dibilang berkecukupan, sehingga mereka bisa mempekerjakan pembantu. Nah pembantu orang tua saya inilah yang menjadi ‘pemeran utama’ dalam cerita saya ini.

Cerita Sex Ine Pembantu seksi

Cerita Sex Ine Pembantu seksi

Ayah saya baru dua bulan yang lalu meninggal dunia, jadi sekarang ibu saya tinggal sendiri hanya ditemani Ine, pembantunya yang sudah hampir 3 tahun bekerja disitu. Ine berumur 25 tahun, dia masih belum bersuami. Wajahnya tidak cantik, walaupun tidak bisa disebut jelek juga. Tapi yang menarik dari Ine ini adalah bodynya, seksi sekali. Tinggi kira-kira 165 cm, dengan pinggul yang bulat dan dada berukuran 36. Kulitnya agak cokelat. Sering sekali saya memperhatikan kemolekan tubuh pembantu ibu saya ini, sambil membandingkannya dengan tubuh istri saya yang sudah agak mekar.

Hari itu, karena kurang enak badan, saya pulang dari kantor jam 10.00, sampai di rumah, saya dapati rumah saya kosong. Rupanya istri saya pergi, sedang anak-anak saya pasti sedang sekolah semua. Saya pun mencoba ke rumah ibu saya, yang hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari rumah saya. Biasanya kalau tidak ada di rumah, istri saya sering main ke rumah ibu saya, entah untuk sekedar ngobrol dengan ibu saya atau membantu beliau kalau sedang sibuk apa saja.

Sampai di rumah ibu saya, ternyata disana pun kosong, cuma ada Ine, sedang memasak.

Saya tanya Ine, “Ne, Bu Ria (nama istri saya) kesini nggak?”

“Iya Pak, tadi kesini, tapi terus sama temannya” jawab Ine.

“Terus Ibu sepuh (Ibu saya) kemana?” Tanya saya lagi.

“Tadi dijemput Bu Ratna (Adik saya) diajak ke sekolah Yoga (keponakan saya)”

“Oooh” sahutku pendek.

“Masak apa Ne?” tanya saya sambil mendekat ke dapur, dan seperti biasa, mata saya langsung melihat tonjolan pinggul dan pantatnya juga dadanya yang aduhai itu.

“Ini Pak, sayur sop”

Rupanya dia ngerasa juga kalau saya sedang memperhatikan pantat dan dadanya.

“Pak Erwin ngeliatin apa sih?” Tanya Ine.

Karena selama ini saya sering juga bercanda sama dia, saya pun menjawab,

“Ngeliatin pantat kamu Ne. Kok bisa seksi begitu sih?”

“Iiih Bapak, kan Ibu Ria juga pantatnya gede”

“Iya sih, tapi kan lain sama pantat kamu Ne”

“Lain gimana sih Pak?” tanya Ine, sambil matanya melirik kearah saya.

Saya yakin, saat itu memang Ine sedang memancing saya untuk kearah yang lebih hot lagi. Merasa mendapat angin, saya pun menjawab lagi,

“Iya, kalo Bu Ria kan cuma menang gede, tapi tepos”

“Terus, kalo saya gimana Pak?” Tanyanya sambil melirik genit.

Kurang ajar, pikirku. Lirikannya langsung membuat senjata saya berdiri. Langsung saya berjalan kearahnya, berdiri di belakang Ine yang masih mengaduk ramuan sop itu di kompor.

“Kalo kamu kan, pinggulnya gede, bulat dan kayaknya masih kencang”, jawabku sambil tangan saya meraba pinggulnya.

“Idih Bapak, emangnya saya motor bisa kencang” sahut Ine, tapi tidak menolak saat tangan saya meraba pinggulnya.

Mendengar itu, saya pun yakin bahwa Ine memang minta saya ‘apa-apain’. Saya pun maju sehingga titit saya yang sudah berdiri dari tadi itu menempel di pantatnya. Adduuhh, rasanya enak sekali karena Ine memakai rok berwarna abu-abu (seperti rok anak SMU) yang terbuat dari bahan cukup tipis. Terasa sekali titit saya yang keras itu menempel di belahan pantat Ine yang, seperti saya duga, memang padat dan kencang.

“Apaan nih Pak, kok keras?” tanya Ine genit.

“Ini namanya soni, sodokan nikmat” sahutku.

Saat itu, rupanya sop yang dimasak sudah matang. Ine pun mematikan kompor, dan dia bersandar ke dada saya, sehingga pantatnya terasa menekan titit saya. Saya tidak tahan lagi mendapat sambutan seperti ini, langsung tangan saya ke depan, saya remas kedua buah dadanya. Alamaak, tangan saya bertemu dengan dua bukit yang kenyal dan terasa hangat dibalik kaos dan branya.

Saat saya remas, Ine sedikit menggelinjang dan mendesah, “Aaahh, Pak” sambil kepalanya ditolehkan kebelakang sehingga bibir kami dekat sekali. Saya lihat matanya terpejam menikmati remasan saya. Saya kecup bibirnya, dia membalas kecupan saya. Tak lama kemudian, kami saling berpagutan, lidah kami saling belit dalam gelora nafsu kami. Penis saya yang tegang saya tekan-tekankan ke pantatnya, menimbulkan sensasi luar biasa untuk saya (saya yakin juga untuk Ine).

Sekitar 5 menit, saya turunkan tangan kiri saya ke arah pahanya. Tanpa banyak kesulitan saya pun menyentuh CDnya yang ternyata telah sedikit lembab di bagian memeknya. Saya sentuh memeknya dengan lembut dari balik CDnya, dia mengeluh kenikmatan,

“Ssshh… aahhh…”

“Pak Erwin, paak… jangan di dapur dong Pak”

Dan saya pun menarik tangan Ine, saya ajak ke kamarnya, di bagian belakang rumah ibu saya. Sesampai di kamarnya, Ine langsung memeluk saya dengan penuh nafsu.

“Pak, Ine sudah lama lho pengen ngerasain punya Bapak”

“Kok nggak bilang dari dulu?” tanya saya sambil membuka kaos dan roknya.

Dan… saya pun terpana melihat pemandangan menggairahkan di tubuh pembantu ibu saya ini. Kulitnya memang tidak putih, tapi mulus sekali. Buah dadanya besar tapi proporsional dengan tubuhnya. Sementara pinggang kecil dan pinggul besar ditambah bongkahan pantatnya bulat dan padat sekali. Rupanya Ine tidak mau membuang waktu, dia pun segera membuka kancing baju saya satu persatu, melepaskan baju saya dan segera melepaskan celana panjang saya.

Sekarang kami berdua hanya mengenakan pakaian dalam saja, dia bra dan CD, sedangkan saya hanya CD saja. Kami berpelukan, dan kembali lidah kami berpagut dalam gairah yang lebih besar lagi. Saya rasakan kehangatan kulit tubuh Ine meresap ke kulit tubuh saya. Kemudian lidah saya turun ke lehernya, saya gigit kecil lehernya, dia menggelinjang sambil mengeluarkan desahan yang semakin menambah gairah saya,

“Aahh… Bapak…”

Tangan saya melepas kait branya, dan bebaslah kedua buah dada yang indah itu. Langsung saya ciumi, kedua bukit kenyal itu bergantian. Kemudian saya jilati puting Ine yang berwarna coklat, terasa padat dan kenyal, beda sekali dengan buah dada istri saya. Lalu saya gigit-gigit kecil putingnya dan lidah saya membuat gerakan memutar disekitar putingnya yang langsung mengeras.

Saya rebahkan Ine di tempat tidurnya, dan saya lepaskan CDnya. Kembali saya tertegun melihat keindahan kemaluan Ine yang dimata saya saat itu, sangat indah dan menggairahkan. Bulunya tidak terlalu banyak, tersusun rapi dan yang paling mencolok adalah kemontokan vagina Ine. Kedua belah bibir vaginanya sangat tebal, sehingga klitorisnya agak tertutup oleh daging bibir tersebut. Warnanya kemerahan.

“Pak, jangan diliatin aja dong, Ine kan malu” Kata Ine.

Saya sudah tidak mempunyai daya untuk bicara lagi, melainkan saya tundukkan kepala saya dan bibir saya pun menyentuh vagina Ine yang walaupun kakinya dibuka lebar, tapi tetap terlihat rapat, karena ketebalan bibir vaginanya itu. Ine menggelinjang, menikmati sentuhan bibir saya di klitorisnya. Saya tarik kepala saya sedikit kebelakang agar bisa melihat vagina yang sangat indah ini.

“Ine, memek kamu indah sekali, sayang”

“Pak Erwin suka sama memek Ine?” tanya Ine.

“Iya sayang, memek kamu indah dan seksi, baunya juga enak” jawabku sambil kembali mencium dan menghirup aroma dari vagina Ine.

“Mulai sekarang, memek Ine cuma untuk Pak Erwin” Kata Ine.

“Pak Erwin mau kan?”

“Siapa sih yang nggak mau memek kayak gini Ne?” tanya saya sambil menjilatkan lidah saya ke vaginanya kembali.

Ine terlihat sangat menikmati jilatan saya di klitorisnya. Apalagi saat saya gigit klitorisnya dengan lembut, lalu saya masukkan lidah saya ke liang kenikmatannya, dan sesekali saya sapukan lidah saya ke lubang anusnya.

“Oooh… sshhh… aahhh… Pak Erwin, enak sekali Pak. Terusin ya Pak Erwin sayang…”

Sepuluh menit, saya lakukan kegiatan ini, sampai dia menekan kepala saya dengan kuat ke vaginanya, sehingga saya sulit bernafas.

”Pak Erwin… aaahh… Ine nggak kuat Pak… sshhh…”

Saya rasakan kedua paha Ine menjepit kepala saya, bersamaan dengan itu saya rasakan vagina Ine menjadi semakin basah. Ine sudah mencapai orgasme yang pertama. Ine masih menghentak-hentakkan vaginanya kemulut saya, sementara air maninya meleleh keluar dari vaginanya. Saya hirup cairan kenikmatan Ine sampai habis. Dia terlihat puas sekali, matanya menatap saya dengan penuh rasa terima kasih. Saya senang sekali melihat dia mencapai kepuasan.

Tak lama kemudian dia bangkit sambil meraih kemaluan saya yang masih berdiri tegak seperti menantang dunia. Dia memasukkan kemaluan saya kedalam mulutnya, dan mulai menjilati kepala kemaluan saya. Ooouugh, nikmatnya… ternyata Ine sangat pandai memainkan lidahnya, saya rasakan sensasi yang sangat dahsyat saat giginya mengenai batang kemaluan saya. Agak sakit tapi justru sangat nikmat. Ine terus mengulum kemaluan saya, yang semakin lama semakin membengkak itu. Tangannya tidak tinggal diam, dikocoknya batang kemaluan saya, sambil lidah dan mulutnya masih terus mengirimkan getaran-getaran yang menggairahkan di sekujur batang kemaluan saya.

“Pak Erwin, Ine masukin sekarang ya Pak?” pinta Ine.

Saya mengangguk, dan dia langsung berdiri mengangkangi saya tepat di atas kemaluan saya. Digenggamnya batang kemaluan saya, lalu diturunkannya pantatnya. Di bibir vaginanya, dia menggosok-gosokkan kepala kemaluan saya, yang otomatis menyentuh klitorisnya juga. Kemudian dia arahkan kemaluan saya ke tengah lubang vaginanya. Dia turunkan pantatnya, dan.. slleepp.. sepertiga kemaluan saya sudah tertanam di vaginanya. Ine memejamkan matanya, dan menikmati penetrasi kemaluan saya.

Saya merasakan jepitan yang sangat erat dalam kemaluan Ine. Saya harus berjuang keras untuk memasukkan seluruh kemaluan saya ke dalam kehangatan dan kelembaban vagina Ine. Ketika saya tekan agak keras, Ine sedikit meringis. Sambil membuka matanya, dia berkata,

“Pelan dong Pak Erwin, sakit nih, tapi enak banget”

Dia menggoyangkan pinggulnya sedikit-sedikit, sampai akhirnya seluruh kemaluan saya lenyap ditelan keindahan vaginanya. Kami terdiam dulu, Ine menarik nafas lega setelah seluruh kemaluan saya ‘ditelan’ vaginanya. Dia terlihat konsentrasi, dan tiba-tiba.. saya merasa kemaluan saya seperti disedot oleh suatu tenaga yang tidak terlihat, tapi sangat terasa dan enaak sekali. Luar Biasa! Kemaluan Ine menyedot kemaluan saya!

Belum sempat saya berkomentar tentang betapa enaknya vaginanya, Ine pun mulai membuat gerakan memutar pinggulnya. Mula-mula perlahan, semakin lama semakin cepat dan lincah gerakan Ine. Wow.. saya rasakan kepala saya hilang, saat dia ‘mengulek’ kemaluan saya di dalam vaginanya. Ine merebahkan badannya sambil tetap memutar pinggulnya. Payudaranya yang besar menekan dada saya, dan astaga.. sedotan vaginanya semakin kuat, membuat saya hampir tidak bertahan.

Saya tidak mau orgasme dulu, saya ingin menikmati dulu vagina Ine yang ternyata ada ‘empot ayamnya’ ini lebih lama lagi. Maka, saya dorong tubuh Ine ke atas, sambil saya suruh lepas dulu, dengan alasan saya mau ganti posisi. Padahal saya takut ‘kalah’ sama dia.

Lalu saya suruh Ine tidur terlentang, dan langsung saya arahkan kemaluan saya ke vaginanya yang sudah siap menanti ‘kekasihnya’. Walaupun masih agak sempit, tapi karena sudah banyak pelumasnya, lebih mudah kali ini kemaluan saya menerobos lembah kenikmatan Ine.

Saya mainkan pantat saya turun naik, sehingga penis saya keluar masuk di lorong sempit Ine yang sangat indah itu. Dan, sekali lagi saya pun merasakan sedotan yang fantastis dari vagina Ine. Setelah 15 menit kami melakukan gerakan sinkron yang sangat nikmat ini, saya mulai merasakan kedutan-kedutan di kepala penis saya.

“Ine, aku udah nggak kuat nih, mau keluar, sayang…” kata saya pada Ine.

“Iya Pak, Ine juga udah mau keluar lagi nih. Oohh… sshhh… aaahh… bareng ya Pak… cepetin dong genjotannya Pak…” pinta Ine.

Saya pun mempercepat genjotan saya pada lubang vagina Ine yang luar biasa itu, Ine mengimbanginya dengan ‘mengulek’ pantatnya dengan gerakan memutar yang sangat erotis, ditambah dengan sedotan alami didalam vaginanya. Akhirnya saya tidak dapat bertahan lebih lama lagi, sambil mengerang panjang, tubuh saya mengejang.

“Ine… ahhh… hhh… aku keluar sayaang…”

Muncratlah air mani saya kedalam vaginanya. Disaat bersamaan, Ine pun mengejang sambil memeluk erat tubuh saya.

“Pak Erwiiin, Ine juga keluar paakk… sshhh… aaahh…”

Saya terkulai diatas tubuh Ine. Ine masih memeluk tubuh saya dengan erat, sesekali pantatnya mengejang, masih merasakan kenikmatan yang tiada taranya itu. Nafas kami memburu, keringat tak terhitung lagi banyaknya. Kami berciuman.

“Ine, terima kasih yaa, memek kamu enak sekali” kata saya.

“Pak Erwin suka memek Ine?”

“Suka banget Ne, abis ada empot ayamnya sih” jawabku sambil mencium bibirnya. Kembali kami berpagutan.

“Dibandingin sama Bu Ria, enakan mana Pak?” pancing Ine.

“Jauh lebih enak kamu sayang”

Ine tersenyum.

“Jadi, Pak Erwin mau lagi dong sama Ine lain kali. Ine sayang sama Pak Erwin”

Saya tidak menjawab, hanya tersenyum dan memeluk Ine. Pembantu ibu saya yang sekarang jadi kekasih gelap saya.

Cerita Dewasa Sex Perawan, Cerita Dewasa Sex SMA, Cerita Dewasa Sex Gangbang, Cerita Dewasa Sex SPG, Cerita Dewasa Sex ABG,Cerita Dewasa Sex Model, Cerita Dewasa Sex Suster, Cerita Dewasa Sex Mahasiswa, Cerita Dewasa Sex Mahasiswi, Cerita Dewasa Sex Threesome, Cerita Dewasa Sex Pembantu, Cerita Dewasa Sex Tante Girang, Cerita Dewasa Sex Salon++, Cerita Dewasa Sex Lesbi, Cerita Dewasa Sex Gay, Foto Hot ABG Terbaru, Foto Hot Model Terbaru, Foto Hot Mahasiswi Terbaru,

(Visited 17 times, 1 visits today)
Iklan Film Semi Jav
author
Author: